Total Tayangan Halaman

Test

Minggu, 04 November 2012

Menu Utama Vitamin Kantoran...... TELUR MATA SAPI...????

Ada pelajaran menarik yang saya dapat dari begadang bersama dengan kakak angkat semalem. Alam sebenarnya betul - betul memberi pelajaran pada kita namun kadang kita tak menyadarinya dan memikirkannya. Mulai dari siklus pertumbuhan, siklus kehidupan, dan terminologi ( istilah ) nya.

Malam ini dari makan nasi goreng bungkus muncul wacana tentang dinamika kehidupan ditempat kerja," Walah opo ono urusane sego goreng karo urusan kantor kang ???" ( *javanese  red )..... eit ternyata saya dapat pencerahan dari cangkruk'an bersama ini. 


Ditempat kerja kadang kita bekerja keras mati matian untuk slesaikan tugas yang ada, kadang kita bisa selesaikan tepat waktu atau sdikit molor dari schedule. Terkadang atasan memberi tugas kita bejibun,mau tidak mau karena tuntutan tanggung jawab dan kerja yah kita lakuin tetapi begitu pas sudah selesai dan waktunya dikumpulin kadang kita cuma dapat kata " yah udah taruh aja diatas meja,makasih ya ", tanpa semyum karena gaya pimpinan yang ArSoWa ( Arek sok jaga Wibawa ). Pastinya juga kita cuma bisa omong " Iya Pak,ada yang lain yang bisa saya bantu? ", saat tugas itu dipresentasikan atasan dan sukses, applause besar tuk sang pimpinan. 

Sama halnya disaat kita ngobrol makan siang dengan teman kemudian terucap tentang ide kita sama teman kantor. Al hasil saat breefing teman lontarkan ide kita dan dia diacungi sama pimpinan atas ide biriannya yang ternyata plagiatan dari ide kita. Dongkol, mengerutu, marah, mungkin terjadi. 

Ini yang dinamakan fenomena Telur Mata Sapi, sang ayam yang berjuang dengan peluh mengeluarkan telur begitu digoreng orang bilangnya Telur mata Sapi padahal beda banget antara mata sapi dengan telur goreng.

Bukan kita gila pujian ataupun apalah namanya, cuma saat nama kita disebut kita akan merasa dihargai. Ini masalah Fatsun, Adab, Etika, dan moralitas yang harusnya dimiliki oleh masing-masing personal Team work kita dalam suatu tempat kerja. seyogyanya jika anda menganggap ide atau kerjaan orang itu bagus sampaikan bahwa dia turut serta menjadi bagian dari pencapaian yang anda raih, akui bahwa anda tertolong berkat teman anda sehingga timbul sikap sportifitas dan persaingan kerja yang ada menjadi persaingan kerja yang dinamis, malahan nantinya teman anda dapat menjadi pathner bekerja atau teman beride yang sinergis 

Mungkin anda, pembaca mempunyai pandangan atau cara sendiri dalam menyikapi fenomena kejadian yang biasa terjadi dilingkungan kerja seperti diatas. Saya cuma mengingatkan janganlah Anda menjadi Telur mata sapi, tapi jadilah telur dengan tittle yang mengeluarkannya. Tuk plagiator jadilah Plagiator yang beretika....salam Selamat Pagi

Jumat, 02 November 2012

NIKMAT STRESS ( indahnya Stress )


Salah satu cara kita agar berhasil dalam keuangan ialah bersedia dan bisa menghadapi stress. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana cara menghadapi stress tersebut?

Orang kadang kala lupa akan hukumsebab akibat, bahwa semakin besar bisnis Anda akan semakin besar stress Anda. Mungkin jika kita bisnis dengan modal kecil, stress kita tidak akan terlalu besar, tetapi penghasilannya pun tidak besar. Sebaliknya jika kita sudah mengeluarkan modal (apa lagi modal dari orang lain) dalam jumlah besar, maka stress yang kita alami akan lebih besar lagi. Ini adalah pengalaman nyata. Dari kenyataan ini, bisa kita simpulkan bahwa suatu keberhasilan seringkali adalah bayaran dari stress yang kita alami. Jika Anda ingin berhasil maka bersiaplah untuk stress.

Stress memang hanya muncul saat ada masalah, saat tidak ada masalah kita mungkin akan tenang-tenang saja. Begitu ada masalah yang mengancam bisnis kita atau kita mengalami kerugian besar atau terkena musibah maka stress akan mulai muncul. Stress akan bertambah saat investor mulai mempertanyakan uang yang mereka tanamkan kepada kita.

Inilah dinamika hidup. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa ada orang yang tidak memiliki cita-cita atau meraih pancapaian yang lebih tinggi. Mereka mungkin tidak mau menghadapi stress dan menghabiskan energi. Namun seperti quantum, selalu memerlukan energi untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi. Jika tidak, kita akan tetap seperti kita sekarang ini.

Jika stress adalah bagian dari hidup kita, maka yang harus kita lakukan ialah bukanlah menghindari dari stress, tetapi bagaimana kita bisa menghadapi stress. Stress muncul jika ada masalah, maka masalah bukan untuk dihindari tetapi untuk kita hadapi sehingga jika masalah bisa kita atasi maka stress kita bisa hilang. Namun jika stress sudah mendahului menguasai diri kita maka bukannya kita akan menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk masalah.

Oleh karena kita, kita perlu memiliki suatu ketangguhan dalam menghadapi stress. Jangan sampai stress bisa menguasai diri kita dan bahkan menghancurkan diri kita. Ketangguhan itu hanya bisa muncul jika keimanan kita kuat. Setiap masalah dan konsekuensinya adalah dari Allah dan kita serahkan semuanya kepada Allah sambil kita tetap berusaha. Kita akan memiliki ketangguhan jika kita memegang prinsip:

Bagi kami cukup Allah saja pelindung yang baik, bagi kami berserah diri yang baik, dan penolong yang baik bagi kami. HasbunAllah wa nikmal wakil, Ni'ma mawla wa ni'mannatsir ( cukup Allah sebagai pegangan ku ) 

Minggu, 18 September 2011

NIKMATNYA LELAH ........

Selamat Pagi ........

Sebagian dari anda saat membaca ini mungkin sedang mengerutu...
Capek......
Penat.....
Sammmaaaa...... hehehehehe
Sobat coba anda lihat saat anda mengendarai motor atau mobil anda pasti memperhatikan sebuah benda yang bernama "Jarum ". Bukan tanpa fungsi atau sekedar hiasan saja perusahaan kendaraan membuat jarum ( analog lho bukan digital ) itu khusus untuk anda lihat. dari jarum itu anda akan mengetahui kondisi dari kendaraan yang sedang sobat gunakan. Apa kendaraan itu berlabel Ferarri, Lamborgini, Honda, atau bemo bajaj sobat pasti melirik kearah jarum itu.Kenapa????..... karena dari jarum itu kita dapat mengetahui Barometer bahwa kendaraan kita sedang butuh bahan bakar, kecepatan terlalu tinggi hingga harus anda mulai kurangi, atau mesin kendaraan sudah over heating hingga air radiator waktunya ditambah.
Bisa sobat bayangkan bila kendaraan yang anda kendarai tidak terdapat jarum tersebut. Mungkin anda akan lebih tersiksa lagi jika mobil anda nantinya malah mengalami kerusakan lebih parah akibat akumulatif kerusakan dikarenakan tidaktahuan kita untuk merehatkannya.
Pun halnya Tuhan memberi banyak barometer pada diri kita, saat kita ingin minum kita diberi karunia rasa haus, saat ada benda asing dalam diri kita tuhan karuniakan demam, hingga kita dapat "membaca" tanda - tanda yang disediakanNya.






JAVANESE NOSTRADAMUS





Ndak tahu knapa tiba - tiba dibenarku terlintas " Jaya Baya "......
pas utak - atik ...eh,tuing nonggol, just berbagi info aja
slama tuh ada nilai kebaikan, apa salahnya diingatkan
Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa.






1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berlayar di ruang angkasa.

4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan lubuk.

5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman--- Itu pertanda orang akan mengalami     jaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.

13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
      Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.

14. Ora ngendahake hukum Allah--- Tak peduli akan hukum Allah.

15. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.

16. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.

17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.

18. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.

19. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.

20. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.

21. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.

22. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.

23. Nantang bapa--- Menantang ayah.

24. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.

25. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.

26. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.

27. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.

28. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil

29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil

30. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil

31. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.

32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru malu.

33. Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.

34. Wegah nyambut gawe --- Malas menunaikan kerja.

35. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.

36. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

37. Wong bener thenger-thenger --- Si benar termangu-mangu.

38. Wong salah bungah --- Si salah gembira ria.

39. Wong apik ditampik-tampik--- Si baik ditolak ditampik.

40. Wong jahat munggah pangkat--- Si jahat naik pangkat.

41. Wong agung kasinggung--- Yang mulia dilecehkan

42. Wong ala kapuja--- Yang jahat dipuji-puji.

43. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.

44. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan

45. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.

46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.

47. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.

48. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.

49. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar pasangan.

50. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.

51. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.

52. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

53. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.

54. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.

55. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.

56. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.

57. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.

58. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.

59. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.

60. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.

61. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.

62. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.

63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.

64. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.

65. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.

66. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.

67. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.

68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Di mana-mana perempuan lacur

69. Akeh laknat--- Banyak kutukan

70. Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.

71. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.

72. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.

73. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.

74. Guru disatru---Guru dimusuhi.

75. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.

76. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.

77. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.

78. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.

79. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.

80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

81. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.

82. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.

83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

84. Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.

85. Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.

86. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.

87. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.

88. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.

89. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.

90. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.

91. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.

92. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.

93. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.

94. Akeh barang haram---Banyak barang haram.

95. Akeh anak haram---Banyak anak haram.

96. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.

97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.

98. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.

99. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.

100. Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.

101. Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.

102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

103. Sing kebat kliwat---Siapa tangkas lepas.

104. Sing telah sambat---Siapa terlanjur menggerutu.

105. Sing gedhe kesasar---Si besar tersasar.

106. Sing cilik kepleset---Si kecil terpeleset.

107. Sing anggak ketunggak---Si congkak terbentur.

108. Sing wedi mati---Si takut mati.

109. Sing nekat mbrekat---Si nekat mendapat berkat.

110. Sing jerih ketindhih---Si hati kecil tertindih

111. Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur

112. Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.

113. Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.

114. Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.

115. Wong tani ditaleni---Si tani diikat.

116. Wong dora ura-ura---Si bohong menyanyi-nyanyi

117. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

118. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.

119. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.

120. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.

121. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.

122. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.

123. Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.

124. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.

125. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.

126. Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.

127. Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.

128. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.

129. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

130. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.

131. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.

132. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

133. Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.

134. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

135. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.

136. Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.

137. Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.

138. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.

139. Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.

140. Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.

141. Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.

142. Akeh bandha musna ora karuan lungane---Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

143. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.

144. Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

145. Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.

146. Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.

147. Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.

148. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.

149. Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.

150. Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.

151. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.

152. Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

153. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.

154. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.

155. Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.

156. Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit

157. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.

158. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang.

159. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.

160. Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.

161. Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi

162. Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci

163. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

164. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.

165. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.

166. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.

167. Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.

168. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.

169. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.

170. Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh

171. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.

172. Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.

173. Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.

174. Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.

175. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.

176. Agama ditantang---Agama ditantang.

177. Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.

178. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.

179. Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.

180. Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.

181. Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan

182. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

183. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.

184. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

185. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

186. Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.

187. Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.

188. Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.

189. Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.

190. Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.

191. Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.

192. Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga

193. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.

194. Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.

195. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.

196. Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.

197. Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.

198. Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.

199. Buruh mangluh---Buruh menangis.

200. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.

201. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.

202. Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.

203. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.

204. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.

205. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.

206. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

207. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal separo.

208. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.

209. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

210. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.

211. Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.

212. Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.

213. Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.

214. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya jaman.